Rabu, 10 Februari 2010

Cita-cita?

Assalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Hei semua, saksi-saksi bisu yang terus membayangi diriku dan kehidupanku!
Kau selalu menyaksikan seluk beluk pikiranku dan hatiku, bukan?
Aku ingin tahu, apa maumu sebetulnya?
Aku menginginkan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang hanya aku temukan dari dalam diriku sendiri, bukan dari keinginan orang lain.
Aku hanya menginginkan kebahagiaan, bukan takdir yang berbelit-belit yang kau rangkai dari kejelekanku, masa laluku yang kelam, atau angan-angan untuk masa depanku yang terlalu berlebihan!
Aku hanya ingin kebenaran! Tak peduli tampak atau tidak. Yang penting benar!
Karena kebenaran berbicara fakta, dan aku mempercayai kebenaran.
Sesuatu yang jarang ditemukan untuk masa yang modern seperti ini.
Permainan uang menutupiku untuk masuk ke gerbang yang kuinginkan.
Kebohongan besar dibungkus rapat, indah, dan rapi dengan kata-kata halusmu. Sungguh menjijikkan! Seakan-akan gerbang itu "aman" untuk dilewati.
Kau bungkam aku dalam dua pilihan sulit.
Mau pilih jalan pintas dengan permainan semu, atau jalan sulit dengan konsekuensi yang sesuai?
Asalkan itu kebenaran, aku akan terima dan menjalani pilihanku sendiri.
Meski aku harus memangkas habis cita-citaku, angan-anganku. Aku tidak mau menyesal. Tidak akan.
Aku melakukannya bukan demi orang tuaku.
Aku melakukannya karena kurasa apa yang kulakukan benar.
Takdir bukanlah jalan lurus tanpa pilihan.
Takdir merupakan suatu hasil yang dapat diubah tergantung dari diri kita sendiri.
Aku berharap aku bisa menggali terus potensi yang kumiliki dan terus bermimpi.
Aku tidak ingin berhenti bermimpi meski nantinya aku berada di jalan yang berseberangan.
Orang-orang biasa menyebutnya "mustahil".
Tapi aku tak peduli.
Kata-kata mustahil hanya tercurah dari mulut seseorang yang belum bisa melakukan apa-apa.
Bukannya merendahkan, tapi itulah kenyataannya.
Aku hanya percaya pada kebenaran, karena kebenaran membawaku kebahagiaan.
Aku yakin aku bisa.
Aku tunggu engkau di gerbang sana, saat aku menertawakan diriku sendiri dan dirimu atas ilusimu yang murahan.
Pada saat itu aku menjemput kebahagiaanku sendiri.
Wassalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.