Jumat, 03 Desember 2010

APAKAH DIRINYA SALAH?

Anda tidak tahu betapa menderitanya ia

Di balik balutan sutera putih

Dan dengan senyuman manis palsunya

Tentu Anda tidak mengira,

bahwa di dalam itu semua

...............terdapat pergumulan hati yang meronta

Tersiksa karena sangkar emas memenjarakan hati dan akalnya

Ia dilatih a la robot sang diktator

Ia hanya mengenal satu kalimat,"Yes, Sir!"

Dibumbui tamparan,

..............ancaman,

..................teriakan anarkis,

....Bahkan KEKERASAN..(?!)..atas nama PENDIDIKAN!

Ia dididik dusta,

................khianat,

....................sombong,

.......................mencela yang lain,

..........................dan menjadi makhluk BODOH!

Ya, BODOH!

Menutup kebenaran yang harusnya terucap dan terlaksana?

Menutup diri dari masyarakat sambil terus mengeksklusifkan diri?

Bertahan di atas perahu yang dilubangi teman "sehidup semati" atas nama SABAR dan SHOLEH?

Hidup di luar rel KEBENARAN atas nama KETENANGAN?

Bahkan BATUpun lebih bahagia dari dirinya!

Hingga iapun tumbuh bagai makhluk tak bersendi

.........................Terbiasa sakit hingga mati rasa

Ia tak punya syaraf sensorik sakit

Misinya hanya untuk sujud pada KEMUNAFIKAN,

..................................KEMUSYRIKAN,

......................................KEJAHILIYAHAN,

.........................................KEZHALIMAN!

Apakah SALAH bila seekor burung lepas dari sangkar

..yang dimiliki seseorang yang TIDAK BENAR cara merawatnya?

...........................yang MENYIKSA BATIN

..............................hingga mengukung POTENSI?

Apakah SALAH bila burung itu mengejar KEBEBASAN yang BENAR, HAKIKI..

................sebagai SUNNATULLAAH untuk terus berpegang pada tali KEBENARAN, sumber KEHIDUPAN SEJATI?

Bahkan Anda tidak tahu dan tidak memahami apa itu kebenaran!

Bagaimana mungkin Anda bisa MENILAI tanpa TAHU apa yang ada di dalam dirinya, di LUBUK HATINYA!

OMONG KOSONG bila Anda menjadi PEMIMPIN bagi mereka..

Mengagumkan semua orang

Dengan berperan sebagai PAHLAWAN

Dan mengutip dalil-dalil tanpa memahami makna yang BENAR!

Sama saja Anda membalut kotoran dalam sutera putih itu!

Tak berguna SEDIKITPUN bagi dirinya, bagi mereka,

Bahkan bagi DIRI ANDA SENDIRI

Anda sebenarnya sedang berada di alam maya

Mengejar sesuatu yang sebenarnya TIDAK MAMPU MEMBAHAGIAKAN ANDA!

Kini...

Jika di lubuk hati terdalam yang Anda sendiripun tak bahagia,

Lantas sedang membahagiakan siapakah Anda?

Kukira Anda sedang membahagiakan nafsu..

..dan syetan

Rabu, 03 Maret 2010

i hate to admit it, but i'd like to....

Complaint: Banyak orang yang hanya menggunakan otak dan tidak menyambungkannya dengan hati dalam menyelesaikan masalah. Padahal tubuh dan jiwa itu menyatu, bukan terpisah.

Amazed: Karena kelakuan orang dewasa banyak yang masih bikin satu alis saya naik.

Cry out loud: Tak tahan dengan segala kepalsuan yang dibungkus rapi dengan kertas kado kemunafikan.

*Oke..mungkin kalian semua berpikir saya ini berpikiran sempit karena pendapat saya yang tidak terlalu mewakili fakta di dunia ini secara objektif. Believe it or not, saya paling benci dengan pikiran yang sempit.
Saya hanya terlalu sering merenung, bukan mengeluh, tentang isi dunia ini yang mulai rusak (atau sudah rusak dalam tingkat tertentu).

Senin, 01 Maret 2010

-random things always attract people's attention-

Assalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh, wahaiii laptop.
Udah lama banget ga nge-post sesuatu.
Duh.
Oh iya, gue nemu gambar ini.
Ternyata gue pernah nge-Print Screen slide powerpoint karya tulis a.k.a kartul saat gue lagi penat banget.
Ya Allah..
Hahahah!
Setelah masa sulit (lebay) itu lewat, entah kenapa gue bisa tertawa.
Dan menertawakan kartul gue.
BUahahahahahAAHAHA~~~!
Ga sesarkastik itu juga sih ketawa gue, bleh..!

Tapi, hey, pasti semua orang pernah ngerasain pengalaman yang sama.
Contohnya.
Pas gue inget-inget lagi masa-masa SD.. Atau SMP.. Atau beberapa hari yang lalu deh (biar gampang).
Gue pernah berantem dengan temen baik gue karena suatu hal.
Saat itu gue merasa mau "GRRHHH, SIALAN LU!" atau ucapan sumpah serapah yang hanya bisa nyangkut di dalam hati, ga pernah tersalur lewat esofagus gue, eh, tenggorokan.
Dan....
Pas gue inget lagi sebab musabab gue berantem dengan dia.
Oh My Super God~~! (plesetan lagu Super Girl-nya Suju M)
Itu adalah hal yang amat sangat sepele.

SEE?!
(ahahah, gue ga ngasih tau sebab gue berantem karena gue pun lupa apa itu :p, but that's not the point, darling~)

Yang jelas, hadapi apapun yang sekarang lagi ada di depan lu persis.
Jangan pernah lari. Lanjut aja!
Atau kalau perlu, lindes! Tabrak! Tubruk!
Pokoknya atasi dengan solusi yang baik dan benar, sesuai dengan ejaan yang disempurnakan (?!)
Jangan mengeluh, karena yang lu hadapi sekarang bukanlah bahan untuk ditangisi, tapi untuk diselesaikan.
Kayak ulangan di sekolah aja.
Ga bakal selesai kan kalo lu cuma meratapi, bahkan menangisi.
CIH!
Kita harus tegar, saudara seperjuangan sekalian!

Maka dari itu, jangan pernah bosan untuk menghadapi suatu cobaan dan masalah, sekalipun itu getir!
Kalo udah selesai, pasti bakal tercengang sendiri deh, dan TAA-DAAA~!
Tiba-tiba lu menemukan diri lu sendiri menertawakan kelemahan lu di masa lalu.
Ya, menertawakan diri sendiri itu hal membuat kita makin dewasa.


(Hari demi hari, kita bertambah angka usia, namun di balik itu semua benang kehidupan semakin tersulut dan akhirnya habis terbakar oleh api takdir.
Namun, abu benang kehidupan kita akan menjadi saksi dan kunci pelajaran bagi generasi kita selanjutnya.)

Selasa, 16 Februari 2010

Preservatives

Saat aku membaca memoriku yang dulu,
aku hampir tidak bisa menahan rasa sedih dan terharu.
Semua seakan berputar lagi, hidup,
dan bernafaskan kekuatan materi dari dalam jiwa.
Aku tercekat saat tersadar betapa berharganya semua itu.

Aku ingin merangkum semuanya dalam hatiku,

menutup rapat-rapat.

Bukan untuk dilupakan, tapi agar aku tetap ingat
rasa secara utuh saat semua kejadian itu terjadi.
Bisa dibilang 'mengawetkan memori' dengan kedap udara yang sempurna.

Kau tahu apa kedap udara yang sempurna itu?

Yaitu hati yang berjiwa besar, tegar, dan pantang menyerah dalam tiap cobaan.

Aku yakin itu semua lama-lama akan mengobati lukaku yang lama,
kerinduanku yang telah menjadi dahaga paling besar untuk bertemu sesuatu yang bernama 'kebebasan'.

Aku akan bahagia dengan itu.

Aku hanya mempercayai hal itu.

Rabu, 10 Februari 2010

Cita-cita?

Assalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Hei semua, saksi-saksi bisu yang terus membayangi diriku dan kehidupanku!
Kau selalu menyaksikan seluk beluk pikiranku dan hatiku, bukan?
Aku ingin tahu, apa maumu sebetulnya?
Aku menginginkan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang hanya aku temukan dari dalam diriku sendiri, bukan dari keinginan orang lain.
Aku hanya menginginkan kebahagiaan, bukan takdir yang berbelit-belit yang kau rangkai dari kejelekanku, masa laluku yang kelam, atau angan-angan untuk masa depanku yang terlalu berlebihan!
Aku hanya ingin kebenaran! Tak peduli tampak atau tidak. Yang penting benar!
Karena kebenaran berbicara fakta, dan aku mempercayai kebenaran.
Sesuatu yang jarang ditemukan untuk masa yang modern seperti ini.
Permainan uang menutupiku untuk masuk ke gerbang yang kuinginkan.
Kebohongan besar dibungkus rapat, indah, dan rapi dengan kata-kata halusmu. Sungguh menjijikkan! Seakan-akan gerbang itu "aman" untuk dilewati.
Kau bungkam aku dalam dua pilihan sulit.
Mau pilih jalan pintas dengan permainan semu, atau jalan sulit dengan konsekuensi yang sesuai?
Asalkan itu kebenaran, aku akan terima dan menjalani pilihanku sendiri.
Meski aku harus memangkas habis cita-citaku, angan-anganku. Aku tidak mau menyesal. Tidak akan.
Aku melakukannya bukan demi orang tuaku.
Aku melakukannya karena kurasa apa yang kulakukan benar.
Takdir bukanlah jalan lurus tanpa pilihan.
Takdir merupakan suatu hasil yang dapat diubah tergantung dari diri kita sendiri.
Aku berharap aku bisa menggali terus potensi yang kumiliki dan terus bermimpi.
Aku tidak ingin berhenti bermimpi meski nantinya aku berada di jalan yang berseberangan.
Orang-orang biasa menyebutnya "mustahil".
Tapi aku tak peduli.
Kata-kata mustahil hanya tercurah dari mulut seseorang yang belum bisa melakukan apa-apa.
Bukannya merendahkan, tapi itulah kenyataannya.
Aku hanya percaya pada kebenaran, karena kebenaran membawaku kebahagiaan.
Aku yakin aku bisa.
Aku tunggu engkau di gerbang sana, saat aku menertawakan diriku sendiri dan dirimu atas ilusimu yang murahan.
Pada saat itu aku menjemput kebahagiaanku sendiri.
Wassalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.