Assalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Haaaaa~~~h!! Aku lega banget!
Temanku yang berulang tahun pada tanggal 6 Juli merayakan syukurannya hari ini.
Hmm.. Hadiahnya sih sebenarnya dipersiapkan jauh-jauh hari.
Tapi karena aku suka menunda-nunda pekerjaan, akhirnya saat bangun tidur jam 10:45 tadi (haaaa!!!??) aku langsung bingung karena belum selesai!!
Yummy yup! Hadiah yang aku persiapkan ini buatan tangan (hand made).
Kalang kabut lah aku.
Tapi setelah selesai, lega banget deh, dan aku langsung senyum-senyum sendiri (baca: terlalu bangga pada karya sendiri :p).
Oh ya, saat di rumah temanku, suasananya lumayan rame karena saudaranya datang, dan kebetulan anak kecil, weheheheh!
Ah iya! Aku suka banget es krim nya, nasi uduknya.....
Pokoknya enak deh..! (Wahh, ini sih tujuannya bukan ngasih selamat ke orangnya, tapi malah makan-makan)
Tapi aku makannya dikit, karena dari rumah aku udah makan, hiks hiks, padahal es krimnya enak tuh (;__;)...
Ya udah sih..
Tapi hari ini aku senang banget banget banget!!
Karena baru kali ini aku ikut perayaan ulang tahun yang ada es krimnya (ditimpuk).
Hahaha, semoga yang ulang tahun umurnya panjang (AMIN!!), sehat selalu (AMIN!!), dan jadi anak yang soleh, berguna bagi masyarakat, dan makin rajin ibadah dan belajar (AMIN!!!)..!
Terlalu banyak kalo diungkapkan harapannya buat dia.
Intinya sih semoga dia makin baik segala-galanya (AMIN!!)
Oke deh, hari ini ceritanya gitu dulu deh.
Wassalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Rabu, 08 Juli 2009
Senin, 06 Juli 2009
Gelombang Semu
Di bawah detak jantungku
Masih tersimpan sejuta kenangan...
Oh, kurasa tidak.
Mungkin lebih dari itu
Tapi, aku tidak yakin benar
Meski alur cerita terus berputar
Layaknya drama panggung,
Aku tidak akan pernah mengikuti skenario kaku ini!
Sampai matipun!
Aku rela membuang puing-puing kasihmu
Agar kosong ruangan hati ini
Biar sesuatu yang lebih layak darimu
Mampir sebentar di sini, di hati..
Oh..
Kalau boleh, untuk selamanya..
Ya..
Boleh lah..
Mungkin hanya kalau dia lebih layak
Kalau tidak?
Aku akan membuangnya lagi
...seperti yang lalu.
Agak kejam?
Jangan salahkan aku!
Masih tersimpan sejuta kenangan...
Oh, kurasa tidak.
Mungkin lebih dari itu
Tapi, aku tidak yakin benar
Meski alur cerita terus berputar
Layaknya drama panggung,
Aku tidak akan pernah mengikuti skenario kaku ini!
Sampai matipun!
Aku rela membuang puing-puing kasihmu
Agar kosong ruangan hati ini
Biar sesuatu yang lebih layak darimu
Mampir sebentar di sini, di hati..
Oh..
Kalau boleh, untuk selamanya..
Ya..
Boleh lah..
Mungkin hanya kalau dia lebih layak
Kalau tidak?
Aku akan membuangnya lagi
...seperti yang lalu.
Agak kejam?
Jangan salahkan aku!
Jumat, 03 Juli 2009
Nasehat dari Ummiku
Assalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Suatu hari, aku dinasehati ummi pada suatu perbincangan.
Nasehat yang selalu kuingat dari ummi:
Sabda Rasulullah SAW: Katakanlah yang sebenarnya, meskipun pahit.
Bila ada satu orang yang suka berbohong, maka satu rumah itu akan dipenuhi syaitan. Karena syaitan suka beranak di tempat orang yang suka berbohong. Maka dari itu, kita harus jujur. Orang yang sekalipun punya jabatan tinggi, martabat dan wibawanya akan jatuh dan hancur baik di depan manusia apalagi di depan Allah swt, hanya karena berbohong.
Maka, jangan sekali-kali kamu berbohong.
Mungkin sepele, tapi berbohong itu ternyata juga perbuatan dzalim.
Bila terus tumbuh dan dibiarkan menjadi kebiasaan, maka itu akan menjadi kedzaliman yang luar biasa besar!
Suatu hari, aku dinasehati ummi pada suatu perbincangan.
Nasehat yang selalu kuingat dari ummi:
Sabda Rasulullah SAW: Katakanlah yang sebenarnya, meskipun pahit.
Bila ada satu orang yang suka berbohong, maka satu rumah itu akan dipenuhi syaitan. Karena syaitan suka beranak di tempat orang yang suka berbohong. Maka dari itu, kita harus jujur. Orang yang sekalipun punya jabatan tinggi, martabat dan wibawanya akan jatuh dan hancur baik di depan manusia apalagi di depan Allah swt, hanya karena berbohong.
Maka, jangan sekali-kali kamu berbohong.
Mungkin sepele, tapi berbohong itu ternyata juga perbuatan dzalim.
Bila terus tumbuh dan dibiarkan menjadi kebiasaan, maka itu akan menjadi kedzaliman yang luar biasa besar!
Perbincangan yang Bermakna
Assalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Aku hari ini, ehem, sebetulnya dari kemarin sih, aku diajak ngobrol sama ummiku. Kami berdua membicarakan banyak hal. Mulai dari sifat-sifat anggota keluarga kami (terutama bapak, heheh :p) sampai masalah agama.
Kami sampai pindah-pindah lokasi (wuih, kayak syuting aje) karena banyak hal yang harus kami kerjakan.
Tapi, itu nggak terlalu penting untuk diperjelas.
Yang jelas, kemarin benar-benar hari yang spesial.
Tahu kenapa?
Jin.
Mungkin kalian nggak yakin jin yang mana.
Who "jin"? What "jin"? Where "jin"?
Okay, cut it!
Kalau kalian berpikir jin yang aku maksud adalah salah satu makhluk ciptaan Allah swt, kalian BENAR!
(SFX: PAPARARAP PARARAAAAAA~~~P!)
Yummy yup! :D
Kami berdua sempat membicarakan tentang jin.
Jin itu sebenarnya sama dengan manusia. Ada yang kafir dan ada yang muslim.
Dan aku baru tahu kalau ternyata oh ternyata~~
Jin itu wujudnya nggak cuma gaib, kawan-kawanku yang kusayangi!
Maka dari itu, aku sangat tertarik begitu ada topik baru yang sebenarnya ada di sekitar kita sehari-hari.
Sebenarnya ada banyak hal yang kami bicarakan tentang jin. Tapi, karena keterbatasan stok kesabaran dan kerajinan saya (halah halah~~) untuk menulis di sini, saya hanya akan tuliskan di sini secara singkat dan umum.
Saat berbincang-bincang tentang jin di kamar ummi, ada suatu kejadian yang mengejutkan. Kalian nggak perlu takut kok. Tapi, secara tiba-tiba lampu kamar ummi berkedip sebentar.
"Hmm! Tadi liat nggak lampunya kedip?" tanya ummiku.
"Nggak," jawabku. Ya, tapi kayaknya ngerasa sih kedip lampunya bentar, bisikku dalam hati.
"Jinnya tahu kalo kita lagi ngomongin dia."
JEBREET!! Spontan aku kaget.
"Biasanya bulu kuduk langsung merinding."
Begitu dengar kayak gitu, spontan aku langsung naik ke tempat tidur di mana ummiku duduk.
Hahaha.
"Halo, jin," sapaku sambil melambaikan tangan.
"Ada salamnya, lho," ujar ummi.
"Kayak gimana, Mi?"
"Assalaamu 'alaika yaa ghaibi qudratillaah."
Aku mengulang salam itu berkali-kali, hingga hapal (yey! :D).
"Kalo kita memberi salam dan ternyata jinnya kafir, maka dia akan segan untuk mengganggu kita," kata ummi.
"Waaw..," aku berdecak kagum.
"Tapi, kalo jinnya muslim, maka dia akan membalas salam kita."
Dan selanjutnya, ummi juga memberitahu cara memberi salam kepada malaikat, tapi aku tidak begitu mendengarkannya, jadinya lupa deh :p
Akhirnya, kami jadi makin dekat dengan perbincangan itu.
Alhamdulillah~~:)
Sekian ya, wassalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
(=' u '=)
Aku hari ini, ehem, sebetulnya dari kemarin sih, aku diajak ngobrol sama ummiku. Kami berdua membicarakan banyak hal. Mulai dari sifat-sifat anggota keluarga kami (terutama bapak, heheh :p) sampai masalah agama.
Kami sampai pindah-pindah lokasi (wuih, kayak syuting aje) karena banyak hal yang harus kami kerjakan.
Tapi, itu nggak terlalu penting untuk diperjelas.
Yang jelas, kemarin benar-benar hari yang spesial.
Tahu kenapa?
Jin.
Mungkin kalian nggak yakin jin yang mana.
Who "jin"? What "jin"? Where "jin"?
Okay, cut it!
Kalau kalian berpikir jin yang aku maksud adalah salah satu makhluk ciptaan Allah swt, kalian BENAR!
(SFX: PAPARARAP PARARAAAAAA~~~P!)
Yummy yup! :D
Kami berdua sempat membicarakan tentang jin.
Jin itu sebenarnya sama dengan manusia. Ada yang kafir dan ada yang muslim.
Dan aku baru tahu kalau ternyata oh ternyata~~
Jin itu wujudnya nggak cuma gaib, kawan-kawanku yang kusayangi!
Maka dari itu, aku sangat tertarik begitu ada topik baru yang sebenarnya ada di sekitar kita sehari-hari.
Sebenarnya ada banyak hal yang kami bicarakan tentang jin. Tapi, karena keterbatasan stok kesabaran dan kerajinan saya (halah halah~~) untuk menulis di sini, saya hanya akan tuliskan di sini secara singkat dan umum.
Saat berbincang-bincang tentang jin di kamar ummi, ada suatu kejadian yang mengejutkan. Kalian nggak perlu takut kok. Tapi, secara tiba-tiba lampu kamar ummi berkedip sebentar.
"Hmm! Tadi liat nggak lampunya kedip?" tanya ummiku.
"Nggak," jawabku. Ya, tapi kayaknya ngerasa sih kedip lampunya bentar, bisikku dalam hati.
"Jinnya tahu kalo kita lagi ngomongin dia."
JEBREET!! Spontan aku kaget.
"Biasanya bulu kuduk langsung merinding."
Begitu dengar kayak gitu, spontan aku langsung naik ke tempat tidur di mana ummiku duduk.
Hahaha.
"Halo, jin," sapaku sambil melambaikan tangan.
"Ada salamnya, lho," ujar ummi.
"Kayak gimana, Mi?"
"Assalaamu 'alaika yaa ghaibi qudratillaah."
Aku mengulang salam itu berkali-kali, hingga hapal (yey! :D).
"Kalo kita memberi salam dan ternyata jinnya kafir, maka dia akan segan untuk mengganggu kita," kata ummi.
"Waaw..," aku berdecak kagum.
"Tapi, kalo jinnya muslim, maka dia akan membalas salam kita."
Dan selanjutnya, ummi juga memberitahu cara memberi salam kepada malaikat, tapi aku tidak begitu mendengarkannya, jadinya lupa deh :p
Akhirnya, kami jadi makin dekat dengan perbincangan itu.
Alhamdulillah~~:)
Sekian ya, wassalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
(=' u '=)
Langganan:
Postingan (Atom)

